Pasti semua orang pernah mendengar mengenai Antibiotik, mungkin  tidak hanya mendengar, tapi hampir semua orang pernah menggunakan Antibiotik. Menjadi hal yang menarik untuk dikupas, karena Antibiotik selalu menjadi lima besar obat yang digunakan di rumah sakit, selalu menjadi penjualan terbanyak pula di apotek, dan menjadi bahan obat utama yang diproduksi masal oleh Industri Farmasi.

Hal ini memang berasal dari masih tingginya penggunaan Antibiotik sebagai salah satu obat yang digunakan untuk menyembuhkan infeksi. Dan akibat tingginya penggunaan antibiotika, sepertinya menjadi masalah baru untuk dunia terutama dengan masalah resistensi Antibiotik.

Dan kekhawatiran lain yang muncul adalah, penemuan antibiotik yang baru jauh lebih lambat daripada penemuan bakteri penyebab infeksi yang berbeda atau nama lainnya adalah menjadi resisten. Jadi bisa dibayangkan jikalau semua bakteri menjadi resiten (tidak bisa dibunuh oleh AB), maka generasi kita selanjutnya tidak bisa disembuhkan dari infeksi bakteri. Dan hal ini sangat bisa dan sangat mungkin terjadi karena penggunaan AB yang tidak rasional mejadi salah satu penyebabnya.

Dalam tulisan ini ada beberapa yang akan saya bahas, dan saya khususkan untuk Infeksi yang disebabkan bakteri dan bisa disembuhkan dengan Antibiotik secara rasional, meliputi definisi AB, bagaimana AB bekerja membunuh bakteri, klasifikasi bakteri apa itu bakteri, bakteri apa saja yang bisa menyebabkan penyakit, dan bagaimana cara memilih AB untuk menyembuhkan infeksi. Dan saya yangat berharap ini bisa menjadi bahan pembelajaran untuk kita, untuk bisa menjadi lebih wise saat akan menggunakan antibiotika.

Definisi Antibiotik

Antibiotic is a chemical substance produced by a microorganism that inhibits the growth of or kills other microorganisms. ( Antibiotika adalah bahan kimia yang diproduksi oleh mikroorganisme yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme lain)

Antimicrobial agent is a chemical substance derived from a biological source or produced by chemical synthesis that kills or inhibits the growth of microorganisms.  (Sedangkan antimicrobial adalah bahan kimia yang berasal dari alam atau melalui proses  sintetis yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme)

Seiring dengan perkembangan ilmu dan juga teknologi, Antibiotik didefiniskan sebagai bahan kimia yang berasal dari alam,  semi sintetis, dan sintetis yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme.

The word “antibiotic” will be used to describe:

A chemical substance derivable from a microorganism or produced by chemical synthesis that kills or inhibits microorganisms and cures infections.

Yang disebut dari alam : berasal dari mikroorganisme yang umumnya berasal dari kelompok mikroorganisme Fungi seperti Actinomycetes, contohnya Benzylpenicillin dan  Gentamicin

Yang disebut Semisintetis adalah bahan kimia yang berasal dari alam kemudian ditambahkan beberapa struktur penting yang berguna untuk meningkatkan aktivitas antibiotika, atau mengurangi toksisitas dari Antibiotika, Contohnya Ampisilin dan Amikacin

Sedangkan yang disebut Sintesis  adalah antibiotika yang murni dibuat di dalam proses produksi industri. Contohnya Moxifloxacin dan  Norfloxacin

Bagaimana Antibiotika Bekerja?

Antibiotika bekerja dengan 2 cara dasar utama :

  1. Menghambat multiplikasi atau pertumbuhan bakteri (Bakteriostatik)
  2. Membunuh bakteri  (bakterisid)

Proses menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri melalui cara menghambat komponen penting untuk proses kehidupan bakteri seperti sintesis dinding sel, DNA, RNA, Ribosomes dan proteins.

Target AB adalah berprinsip pada Toksisitas Selective, artinya adalah

 “Harm the bacteria, not the host”

 Antibiotika harus mampu bekerja untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau membunuhnya, namun  Tidak toksik terhadap manusia sebagai inang tempat bakteri tersebut  hidup.

Mengapa Sulit Menemukan Antibiotika yang baru?

Jika kita bandingkan dengan penyakit Hipertensi, penggunaan obat Captopril digunakan untuk menjaga pengaturan tekanan darah. Dan sepuluh tahun yang akan datangpun, Captopril masih digunakan sebagai salah satu option druga untuk menurunkan tekanan darah. Hal ini tidak berlaku untuk Antibiotika, karena antibiotika yang kita gunakan saat ini, sepuluh tahun kemudian akan berkurang potensi khasiatnya atau mungkin tidak memiliki efek terapi sama sekali.  Hal ini dikarenakan AB menyerang bakteria, dan bakteria adalah mikroorganisme hidup yang berevolusi dimana bakteri akan melakukan segala daya upaya untuk mengembangkan metode dalam tubuhnya untuk menghambat atau bahkan merusak AB, sehingga AB akan kehilangan potensinya. Seiring dengan penemuan AB yang baru, akan ada metode baru dari bakteria untuk  melawan kerja dari AB, dan inilah yang dinamakan dengan proses bertahan hidup.

Jenis Jenis Antibiotika?

Antibiotika secara umum dibagi kedalam 2 kelaspembagian, berdasarkan stuktur , dan berdasarkan mekanisme kerja.

1. Berdasarkan Struktur  Molekul

  1. Golongan Aminoglikosida, Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
  2. Golongan Beta-Laktam, Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
  3. Golongan Glikopeptida, Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
  4. Golongan Poliketida, Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
  5. Golongan Polimiksin, Diantaranya polimiksin dan kolistin.
  6. Golongan Kinolon (fluorokinolon),Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.
  7. Golongan Streptogramin, Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
  8. Golongan Oksazolidinon, Diantaranya linezolid dan AZD2563.
  9. Golongan Sulfonamida, Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
  10. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat

2. Berdasarkan mekanisme kerjanya

Berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mekanisme bagaimana antibiotik secara selektif meracuni sel bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Mengganggu sintesa dinding sel, seperti penisilin, sefalosporin, imipenem, vankomisin, basitrasin.
  2. Mengganggu sintesa protein bakteri, seperti klindamisin, linkomisin, kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.
  3. Menghambat sintesa folat, seperti sulfonamida dan trimetoprim.
  4. Mengganggu sintesa DNA, seperti metronidasol, kinolon, novobiosin.
  5. Mengganggu sintesa RNA, seperti rifampisin.
  6. Mengganggu fungsi membran sel, seperti polimiksin B, gramisidin.

Bakteri itu apa?

Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu yang berukuran sangat kecil dan mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Bakteri berbentuk batang, spiral, atau bola. Bentuk tubuh ini dijadikan sebagai salah satu dasar klasifikasi bakteri. Ukuran bakteri yang paling besar kira-kira 100 mikron. Ada pula yang kurang dari 1 m dan yang terkecil kira-kira berukuran 0,1 m (1 mikron = 0,001 mm).Bakteri hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Ukuran bakteri yang lebih kecil dari 0,1 m hanya dapat diamati dengan mikroskop elektron. Sekumpulan bakteri dapat membentuk koloni.

Pengklasifikasian dari bakteria berdasarkan bentuk, pewarnaan Gram,  kebutuhan oksigen atau tidak, biokimia, serologic system, genotopic sytem, tempat dia tumbuh (lingkungan), dll. Sehingga klasifikasinya dikategorikan sebagai berikut:

Apakah semua bakteri itu jahat?

Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di bumi. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di organisme lain, dan lain-lain juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.

Namun, tidak semua bakteria adalah bakteri yang merugikan manusia, karena ada beberapa bakteri yang menguntungkan manusia, berikut adalah kegunaan bakteri untuk manusia:

  •  Membantu menyuburkan tanah dengan menghasilkan nitrat
  •  Pengurai sisa makhluk hidup dengan pembusukan
  •  Fermentasi dalam pembuatan makanan dan minuman
  •  Penghasil obat-obatan seperti antibiotik
  •  Mengurai sampah untuk menghasilkan energi
  •  Membantu dalam pembuatan zat-zat kimia, dll

Dampak Buruk Bakteri Yang Merugikan Bagi Kehidupan Manusia:

  • Menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup termasuk manusia (bakteri parasit/patogen)
  • Membusukkan makanan yang kita miliki
  • Merusak tanaman dengan serangan penyakit yang merugikan (bakteri parasit/patogen)
  • Menimbulkan bau yang tidak sedap hasik aktivitas pembusukan
  • Membuat tubuh manusia kotor dipenuhi bakteri yang mengakibatkan bau badan

Bakteri Patogen apa saja??

Dari semua spesies bakteri, hanya beberapa yang bersifat patogen terhadap manusia. Seperti terlihat di gambar di bawah ini:

Dibawah ini adalah beberapa jenis bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit kepada manusia. Terbagi berdasarkan proses penyebaran penyakitnya.

a. Dari Udara

  • diphtheria (Corynebacterium diphtheriae)
  • Legionnaires’ disease and Pontiac fever(Legionella pneumophila)
  • meningitis (Haemophilus influenzae type b,Neisseria meningitidis, and Streptococcus pneumoniae)
  • M. avium–M. intracellulare pneumonia Streptococcal diseases (Streptococcus pyogenes)
  • tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis)
  • pertussis (Bordetella pertussis)

b. Arthropod-borne  (melalu transmisi dari pihak ketiga)

  • ehrlichiosis (Ehrlichia chaffeensis)
  • epidemic (louse-borne) typhus (Rickettsiaprowazekii)
  • endemic (murine) typhus (Rickettsia typhi)
  • Lyme disease (Borrelia burgdorferi)
  • plague (Yersinia pestis)
  • Q fever (Coxiella burnetii)
  • Rocky Mountain spotted fever (Rickettsia rickettsii)

c. Kontak Langsung

  • anthrax (Bacillus anthracis)
  • bacterial vaginosis (Gardnerella vaginalis)
  • cat-scratch disease (Bartonella henselae)
  • chancroid (Haemophilus ducreyi)
  • chlamydial pneumonia (Chlamydia pneumoniae)
  • gas gangrene or clostridial myonecrosis (Clostridium perfringens)
  • genitourinary mycoplasmal diseases (Ureaplasma urealyticum, Mycoplasmahominis)
  • gonorrhea (Neisseria gonorrhoeae)
  • inclusion conjunctivitis (Chlamydia trachomatis)
  • leprosy (Mycobacterium leprae)
  • lymphogranuloma venereum (Chlamydia trachomatis)
  • mycoplasmal pneumonia (Mycoplasma pneumoniae)
  • nongonococcal urethritis (various microorganisms)
  • peptic ulcer disease (Helicobacter pylori)
  • psittacosis (ornithosis) (Chlamydia psittaci)
  • staphylococcal diseases (Staphylococcus aureus)
  • syphilis (Treponema pallidum)
  • tetanus (Clostridium tetani)
  • trachoma (Chlamydia trachomatis)
  • tularemia (Francisella tularensis)

d. Makanan dan Minuman

  • cholera (Vibrio cholerae)
  • botulism (Clostridium botulinum)
  • gastroenteritis (Campylobacter jejuni and other bacteria)
  • salmonellosis (Salmonella serovar typhimurium)
  • shigellosis (Shigella spp.)
  • staphylococcal food poisoning (Staphylococcus aureus)
  • traveler’s diarrhea (Escherichia coli)
  • typhoid fever (Salmonella typhi)

Setelah kita mengetahui bakteri, dan sedikit mengenai Antibiotika, maka pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara kita memilih  antibiotika yang jumlahnya banyak, dan mana yang tepat?

Untuk memilih antibiotika yang baik dan tepat adalah dengan mengetahui bakteri penyebab infeksi dan juga berdasarkan hasil uji sensitivitas Antibakteri. Sehingga dalam terpai pengobatan terbagi ke dalam dua bagian, yaitu secara empiris dan secara klinis.

Arti empiris adalah dengan mengamati diagnosa ppenyakit dan tanda gejala yang mucul, kemudian ditentukan diagnosa penyakit kemungkinan disebabkan oleh bakteri apa. Misalnya saja pasien mengalami gejala di bawah ini:

  1. Pilek yang berlangsung lama.
  2. kepala terasa sangat  sakit, terutama jika sedang menunduk.
  3. Kadang pendengaran berkurang dan badan meriang, sementara ingus terus mengalir.
  4. Kehilangan nafsu makan dan indera penciuman menjadi lemah.

Beberapa gejala ini , yang diungkapkan oleh pasien, bisa jadi didiagnosis sinusitis, dan biasanya diakibatkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemo philus influenzae yang ditemukan hampir pada 70 % kasus. Sehingga dokter akan memberikan antibiotika berdasarkan data empiris dari hasil  gejala pasien, dan memberikan obat sesuai dengan Antibiogram

Kalau dilihat dari Antibiogram di atas, pada pasien  normal, dewasa, maka dokter akan memilih obat yang memiliki nilai sensitivitas yang tinggi seperti tertera diatas, Contoh Levofloksasin atau tetracycline. Selain itu, Dokter akan menentukan AB pilihan tergantung dari beberapa faktor seperti umur pasien , alergi obat , kombinasi dengan penyakit lain dan  terapi terapi obat yang sedang dilalui.

Dapat disimpulkan dengan Antibiogram merupakan salah satu cara untuk memilih  antibiotik secara empiris. Dan dari Antibogram pula kita mengetahui dengan jelas, tidak bisa satu AB membunuh semua bakteri patogen, karena AB memiliki sifat dan kekhasannya sendiri untuk membunuh bakteri yang mana.

Dari hal ini, sangat jelas dapat diungkapkan, janganlah membeli obat AB secara bebas, karena penyakit kita perlu didiagnosis dengan baik oleh ahlinya, sehingga diagnosa penyakit bisa ditegakkan sesuai dengan keadaan pasien. Diagnosis yang  tepat, maka AB bisa tepat.  Dan kalimat ini yang harus kita ingat:

 Beda Bakteri,  beda penyakit, maka beda pula AB nya…

Untuk Antibogram lebih lengkap bisa dilihat di daftar pustaka yang saya ambil:

Pemilihan obat AB secara  klinik, menggunakan data hasil uji mikrobiologi dimana akan dianalisa apa bakteri penyebab penyakitnya, dan diuji sensitivitas bakteri penyebab infeksi dengan Antibakteri yang tersedia. Ini untuk memastikan bahwa pasien menerima obat AB yang tepat untuk kebutuhan kliniknya, dan sangat mungkin mengurangi terjadinya kegagalan pengobatan.

Hasilnya adalah…

Hasil pengujian mikrobiologi diatas adalah , dimana bakteri ditumbuhkan di dalam media tumbuh, kemudian akan diletakan  paper disk ( berwarna putih) yang mengandung AB tertentu dengan konsentrasi tertentu pula. Dinyatakan masih sensitif jikalau masih terdapat daerah bening yang berdiameter lebih besar. Sehingga AB tersebut yang kita pilih.

Dari hasil Uji sensitivitas, kita juga bisa tahu AB mana yang resistant untuk pasien tersebut, sehingga dapat ditulis dalam rekam mediknya, dan bisa dijadikan acuan untuk terapi obat AB yang lain.

Jadi, kalau ditanya, mana yang baik empiris atau klinis???

Tentu jawabannya klinis, karena AB dipilih berdasarkan berdasarkan penyebab infeksinya dan kemampuan AB membunuh bakteri tersebut, sehingga tidak akan ditemukan kejadian resistensi/kekebalan bakteri.

Namun yang terjadi , pemilihan AB secara empiris dilakukan lebih banyak. Tapi bukanlah hal yang buruk,  jikalau dokter mampu mendiagnosis penyakit dengan baik dilihat dari gejala dan keluhan penderita, juga memilih AB yang tepat sesuai dengan diagnosanya.

Mengapa bakteri Menjadi resisten?

Bakteri menjadi resisten, karena penggunaan AB tidak tepat sasaran… bisa dikarenakan:

  1. Mis diagnosis
  2. Tidak tepat dosis dan aturan pakai
  3. Tidak tepat pemilihan AB nya..

Dari ketiga hal tersebut , menjadikan bakteri tetap dalam keadaan hidup, dan sebagai makhluk hidup, dia akan berusaha untuk membuat tubuhnya lebih kuat dengan berbagai mekanisme resistensi, seperti terlihat di video ini.

Dari gambaran di video, kita bisa mengatakan… bakteri mampu bertahan hidup dan bakteri akan melakukan segala upaya untuk memastikan dia tetap hidup.

Sehingga yang terbaik adalah wise menggunakan AB, hindari infeksi (bukan menghindari bakteri, tapi berusaha teteap hygiene di setiap langkah kita), plus tingkatkan sistem imun kita… (nanti saya bahas bagaiman kita bisa meningkatkan sistem imun yaaa….)

WISE lah saat menggunakan AB…terutama pastikan kita mendapatkan AB yang tepat untuk penyakit kita, dan pakailah AB sesuai dengan aturan pakainya. Mari bersama untuk mengatakan TIDAK ADA LAGI BAKTERI RESISTANT!!!!

Berikut adalah pustaka yang saya baca untuk bisa menulis cerita di atas: