Banyak sekali cerita mengenai perkawinan, banyak sekali tips mengarungi rumah tangga  yang dikemukakan dalam suatu web ataupun blog  , dan banyak pula yang mengungkapkan berbagai kendala yang akan dihadapi  dalam mengarungi rumah tangga yang bisa saja menjadi pemicu pertikaian ataupun yang terberat mungkin perpisahan.

Dari sekian banyak cerita dan tulisan… hal yang menjadi inti utama penyelesaian semua  adalah bagaimana menyusun suatu komunikasi yang baik antar pasangan, dan kalau saya tidak salah menganalisa… PERAN ISTRI lah yang paling besar menjaga keharmonisan keluarga terutama dari segi berkomunikasi. Hal ini sangat mudah dipahami, karena dalam rumah tangga yang menjadi seorang pemimpin dalam rumah tangga adalah sang SUAMI, dimana suami yang bertugas dan menjaga kuat  komitmennya  tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk bertanggung jawab dalam membina rumah tangganya, dia memerlukan sentuhan, perhatian dan kasih sayang seorang ISTRI untuk mewujudkan keluarga yang dipimpinnya menjadi keluarga yang benar benar tangguh dan sesuai dengan syariat agama.

Terbayangkan, jika seorang ISTRI tidak bisa menjadi apa yang diharapkan suaminya, yang akan terjadi adalah kekisruhan, dan ketidaknyamanan.

Menjadi seorang isteri di zaman sekarang , akan mengalami berbagai kendala dalam rumahtangga  yang berbeda dengan masa lalu ibu dan  nenek kita dahulu. Terutama dengan kemudahan untuk mengakses informasi dengan teknologi yang serba modern,dan  begitu banyaknya jejaring sosial yang dibina oleh pasangan kita yang memudahkan akses bertemu dengan sang mantan atau seseorang yang baru, yang  memungkinkan menimbulkan  banyak godaan untuk kedua belah pihak.

Jika kita memang menjadi ISTRI yang REAKTIF, tak ayal yang akan muncul adalah sedih, kecewa, atau yang lebih serius – mungkin  murung yang berpanjangan, yang akhirnya memicu terjadinya pertengkaran kecil dan semakin membesar kalau kita tidak mampu mengkomunikasikan dan menyelesaikan permasalahan yang ada.

Saya sebagai ISTRI , pernah mengalami hal serupa, tindakan REAKTIF yang didahulukan, dimana rasa marah mudah sekali muncul jikalau mendapatkan sesuatu yang tidak  disukai hati – walaupun mungkin hanya masalah kecil, menjadi masalah yang memicu pertengkaran demi pertengkaran karena memiliki pandangan berbeda dalam menanggapi suatu masalah.
Sekali lagi, yang selalu saya ingat, tetap, ISTRI adalah pendamping suami, senantiasa menjaga adab kepada suami, patuh dan hormat kepada suami, sayang kepada anak-anak, memenuhi panggilannya, menjaga rahasia suami dengan baik, pandai memikat hati, menghindari konflik dan mendidik anak sesuai dengan kehendak suami, dan mencurahkan  segala fikiran terhadap  komitmen dan usaha untuk selalu membahagiakan suami, niscaya yang dihasilkan adalah manisnya kehidupan rumah tangga.

Ketika dalam perjalanan rumah tangga, ISTRI tidaklah baik jika hanya mengandalkan posisi yang REAKTIF, tapi harus mampu menjadi PROAKTIF dengan tujuan memenuhi tanggung jawab sebagai pendamping suaminya.

Saya bisa menjelaskan ini, karena berpuluh puluh kali terluka dengan sikap REAKTIF saya.  Ternyata semua bisa diselesaikan dengan  nyaman jika dilakukan denganPROAKTIF dengan hasil bisa menyenangkan hati suami… dimana isteri bisa memilih dan memutuskan perasaannya dengan cara yang benar dan wajar, mendidik hati dan pemikirannya untuk selalu melihat sisi positif dengan mencari berbagai alasan untuk tetapmerasa gembira dan bahagia di saat ujian besar  melanda..

“Saya bahagia memilikinya yang tidak romatis, tak mampu membuat kata- kata rayuan manis… berarti diapun tidak mudah mengatakan hal manis pada wanita lain..”
“Saya bahagia memilikinya walaupun sedikit senyum yang dia berikan kepadaku.. tapi senyumnya  yang lebar ketika melihat anak anaknya tumbuh sehat dan kuat dari tanganku”
“Saya bahagia dia memiliki hobi terhadap kepemilikan suatu benda mati… setidaknya dia terfokus pada benda mati , tidak pada benda hidup”
“Saya bahagia  memilikinya, walaupun begitu sulit mengajaknya makan di restoran, jalan ke mall… setidaknya dia selalu makan tepat waktu di rumah dan dilahapnya dengan lahap, karena dia tidak pernah makan sendirian ataupun dengan teman temannyadi luar rumah..”
“Saya bahagia memilikinya , walaupun waktunya di rumah dihabiskan di depan gadgetnya… setidaknya dia tetap berada di rumah..”
“Saya bahagia walaupun bepuluh puluh kali sms dan hanya sepersepuluhnya yang dibalas… at least dibalas kan?? …”
“Saya bahagia memilikinya, walaupun dia lebih memilih bermain bersama teman teman karibnya disaat weekend, setidaknya  dia memberitahukan kepada saya terlebih dahulu, dan mengenalkan teman temannya kepada saya..”

Ya.. itulahhhhh, beberapa sikap yang bisa seorang ISTRI ambil dari sekian banyak  yang mungkin akan dirasakan seorang ISTRI sebagai bentuk ketidakpedulian kepada dirinya…
Sesungguhnya kita memiliki keunggulan, karena kita adalah ISTRI nya, IBU dari anak anaknya, sehingga sebagai ISTRI harus mampu memanfaatkan posisi kita  untuk bisa  memahami apa yang disukainya dan berusaha mendekatkan kita dengan suami. Selalu mengusahakan membuat SUAMI  bahagia berada di tengah tengah kita, apapun itu.. yang berhak dan memang halal dilakukan hanyalah  kita sebagai ISTRInya. Jangan sampai hal ini dilakukan oleh pihak ke tiga.

Mengetahui apa yang disukainya mungkin akan sulit terungkap dari kata katanya, tapi yang bisa dilakukan adalah ikut serta dalam kegiatan yang dilakukannya, mengikuti jejaring sosial yang disukainya, juga yaaa… komunikasikan juga jangan sampai hanya menjadi ISTRI yang maunya menunggu apa diminta oleh  suaminya.

Baik dalam hal urusan makanan, cobalah memahami menu yang disukainya, dalam hal penampilan, ikuti juga apa yang disukainya, dalam hal mengatur uang, ikuti juga apa yang disukainya. Niscaya yang akan kita peroleh adalah kebahagiaan, karena saya yakin jauh di lubuk hati seroang SUAMI , mereka pun memiliki  jiwa pengasih dan romantik yang terpendam, yang perlu digali, dan janganlah menjadi istri yang hanya duduk diam dan berharap jiwa pengasih dan romantik  itu muncul terlebih dahulu dari SUAMI.

Selalu ingat, kita bisa mendapatkan hak kita kalau kita bisa menjalankan kewajiban kita, dan jikalau kita sudah mengenal seperti apa sosok SUAMI, jangan hanya diam untuk pasrah, tapi jadilah ISTRI PROAKTIF… lakukan saja semua yang disukainya  dan teruslah berikhtiar untuk selalu membahagiakannya. Saya yakin SUAMI akan merasakan apa yang sudah dilakukan oleh ISTRI nya..,dan jika memang ini adalah JODOH kita dunia akhirat, InsyaALLah, Allah akan mewujudkan doa kita sebagai istri..

Mencintainya tidak cukup hanya menjadi IBU untuk anak anaknya, tapi jadilah TEMAN, SAHABAT, dan PENDAMPING di sisinya sebagai seorang LELAKI. Dan saya percaya .. menjadi ISTRI seperti itu adalah jalan Ibadah kita untuk selalu mendapat ridho-NYA.
Jangan pernah berpikir, bahwa SAYA adalah ISTRI yang membantu meringankan beban rumah tangga dengan menjadi seorang  wanita karier, bahwa SAYA memiliki pendidikan dan harta yang lebih tinggi dari SUAMI, juga istilah EMANSIPASI WANITA, KESAMAAN HAK… semua itu tetap harus kembali kepada syariah , bahwa ISTRI, WANITA berasal dari tulang rusuk SUAMI, LAKI LAKI yang memiliki kewajiban untuk selalu berada diSAMPINGnya, bukan diatas, bukan di bawah, dan membantu SUAMI untuk bisa menjadi PEMIMPIN HANDAL di keluarganya.

Jadi… REAKTIF… NOOOOO
BE PROAKTIF WIFE… Yes, and do it NOW.

Note: Kutuliskan ini, untuk selalu menjadi pengingatku, akan tugas dan tanggung jawabku sebagai ISTRI, dan juga pesan yang ga akan terhapus oleh waktu untuk anak mama Fifi, juga Adit  dan atas dasar rasa cinta mama  yang besar untuk Papah… http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/18/wife-be-proaktif/.